Santri Hadapi Masalah Di Pondok? Tidak Selalu Bernilai Buruk, Melainkan Tantangan dan Pelajaran Hidup

Santri Hadapi Masalah Di Pondok? Tidak Selalu Bernilai Buruk, Melainkan Tantangan dan Pelajaran Hidup

Pondok Pesantren sering dianggap orangtua sebagai salah satu opsi Lembaga Pendidikan untuk menitipkan anak yang aman. Selain sebagai tempat untuk belajar dan mendapat teman, pondok pesantren juga dianggap sebagai tempat untuk mendisiplikan atau membentuk karakter anak dalam hal agama. Anak yang orang tua titipkan di Pondok harapannya menjadi santri yang berbudi pekerti baik. Namun, di balik fenomena dan dinamika tersebut, santri tetaplah manusia yang memiliki keberagaman karakter dan tidak lepas dari berbagai masalah.

Masalah yang dihadapi santri bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk Latihan dalam menghadapi kehidupan. Jauh dari orang tua, hidup mandiri, aturan yang ketat, perbedaan karakter teman, hingga tekanan akademik dan hafalan Al-Quran menjadi realitas yang harus dihadapi. Rasa rindu kaeadaan di rumah mengajarkan arti kesabaran dan keikhlasan. Konflik dengan teman melatih kemampuan berkomunikasi, mengendalikan emosi, serta belajar memaafkan. Kedisiplinan yang awalnya terasa berat perlahan membentuk tanggung jawab dan komitmen. Semua tantangan itu menjadi bekal berharga yang belum tentu didapatkan di luar pondok.

Setiap tantangan yang terjadi juga membentuk karakter dan ketangguhan mental. Disiplin waktu, tanggung jawab terhadap tugas, serta keberanian menyampaikan pendapat merupakan keterampilan hidup yang lahir dari pengalaman menghadapi masalah. Bimbingan guru dan dukungan lingkungan sekolah yang positif, siswa dapat menjadikan masalah sebagai pijakan untuk berkembang, bukan alasan untuk menyerah (Ibrahim, W.S dkk, 2021).

Perspektif Islam, ujian merupakan cara Allah mendidik hamba-Nya. Allah tidak memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia. Hal ini telah Allah tegaskan dalam Firmannya di Surat Al-Baqarah ayat 286. Bahwa Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya: La yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Setiap masalah yang datang membawa hikmah, meskipun terkadang tidak langsung dirasakan. Santri yang mampu menghadapi masalah dengan sikap sabar, doa, dan ikhtiar akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara mental dan spiritual.

Oleh karena itu, penting bagi santri untuk memaknai masalah bukan sebagai musibah atau hal buruk semata, tetapi sebagai sarana belajar menjalani kehidupan. Adanya pendampingan ustadz dan ustadzah, dukungan teman, serta kedekatan kepada Allah, masalah di pondok justru menjadi ladang pembentukan karakter. Dari pesantren, santri belajar bahwa hidup tidak selalu mudah, namun selalu bermakna ketika dijalani dengan iman dan keteguhan hati.

Penulis: Fajar Nurisa Khoirini, S.Psi.

Bagikan :