DISRUPSI TEKNOLOGI; PELUANG EMAS ATAU BENCANA?

Era disrupsi teknologi yang kini terjadi membuat seroang santri Pondok Pesantren MBS Pleret Yogyakarta bernama Rizki Widya Hapsari bertanya-tanya di hadapan layar gawainya. Apakah dengan hadirnya disrupsi teknologi seperti saat ini mampu menjadi peluang emas baginya, mengingat kehadiran teknologi yang semakin canggih bisa mendorong dirinya untuk terus berinovasi mengikuti perkembagan zaman.

“Disrupsi teknologi nggak selamanya merugikan, kan. Yang penting kita bisa mengimbangi era yang serba digital ini dengan kualitas diri. Semakin unggul kualitas generasi milenial, berarti akan semakin mudah untuk kita menghadapi disrupsi teknologi,” ujar Widya ketika sedang memikirkan nasib generasi muda di era baru ini.

Sore itu disela-sela kegiatan pesantren Widya bercerita banyak hal kepada penulis tentang era baru teknologi saat ini yang bahkan sudah masuk di kehidupan keluarganya. “Nak…” panggil Ibu Widya memecah lamunannya. “Oh, pasti minta tolong lagi,” batin Widya yang sudah hapal dengan apa yang diinginkan ibunya. Pagi itu ibunya memutuskan untuk melakukan check out salah satu barang di keranjang belanja online shop. Karena merasa kesulitan dalam mengaplikasikan salah satu fitur yang ada pada aplikasi tersebut, ibunya pun akhirnya meminta bantuan kepada Widya untuk yang ke sekian kalinya. Untung saja ada anaknya, Widya, bocah milenial yang melek terhadap perkembangan teknologi digital, sehingga ia dapat mengarahkan ibunya melakukan kegiatan belanja secara online.

Seusai membantu sang ibu, tiba-tiba saja Widya mendapati sebuah pesan broadcast yang dikirim salah seorang temannya melalui pesan Whats App. Broadcast tersebut berisi secuil berita yang sedang populer saat itu. “Ah masa iya,” pikirnya sesaat setelah membaca pesan tersebut. Widya bukanlah seorang anak yang apabila mendapatkan sebuah berita langsung ia terima begitu saja. Ia selalu memeriksa judul serta sumber datangnya berita tersebut sebelum nantinya disebarluaskan ke orang lain. Kalau judulnya mengandung unsur provokatif dan juga sumber datangnya berita itu tidak resmi dan tidak jelas dari mana, biasanya ia tidak akan langsung mempercayai isi dari berita tersebut dan tidak akan membagikannya ke orang lain.

“Andai semua orang cerdas memanfaatkan kehadiran era ini, pasti disrupsi teknologi bisa dianggap sebagai peluang besar untuk menciptakan berbagai inovasi yang mendunia,” pikir Widya untuk yang kedua kalinya. Dari pada menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya, ia tentu lebih memilih untuk mengembangkan potensi dirinya dengan memanfaatkan platform online yang tersedia. Karena Widya bukan seorang anak yang gagap terhadap teknologi, ia pun tidak merasa kesulitan dalam menjalankan berbagai aplikasi yang digunakannya.

Selama hadirnya disrupsi teknologi, seorang Widya tidak juga pernah mendapatkan dampak buruk yang ditimbulkan dari era ini. Ia selalu bisa menyikapi segala sesuatu yang diterimanya di dunia maya dengan sangat bijak. Hal inilah yang membuatnya tidak terjerumus ke dalam arus buruk disrupsi teknologi.

Kisah lain terkait era ini juga dirasakan oleh teman Widya yang juga seorang santri MBS Pleret Yogyakarta. Ia bernama Nissa Tesisia Cahyati, seorang anak yang belum bisa beradaptasi dengan kehadiran disrupsi teknologi, dimana segala aktivitas dialihkan secara virtual. Hal tersebut menyebabkan ia kerap merasa kesulitan dalam mengaplikasikan berbagai macam platform online di gawainya. Masih pada sore yang sama di lingkungan pesantren ia berkisah.

“Ah, ke-cancel lagi,” keluh Nissa ketika menerima notifikasi dari aplikasi online shop. Ia baru saja memesan oven secara online yang akan digunakannya untuk membuat kue lebaran. Namun, sang penjual tiba-tiba saja membatalkan transaksi jual beli yang dilakukan oleh Nissa. Nissa yang tidak tahu apa-apa pun akhirnya hanya bisa menahan kecewa di dalam hatinya.

Di samping itu, merebaknya pandemi Covid-19 sejak satu tahun yang lalu juga memaksa Nissa dan teman-temannya untuk melakukan pembelajaran secara virtual di balik layar. Lagi-lagi Nissa merasa kesulitan dalam menjalankan aplikasi yang digunakannya untuk menunjang pembelajaran daring. Ia memang bisa mengaplikasikan beberapa fitur yang tersedia, namun tidak secanggih teman-temannya yang lain.

Menurut Nissa, hadirnya era disrupsi teknologi bisa menjadi bencana bagi milenial saat ini. Apa jadinya kalau media sosial bebas diakses oleh semua kalangan yang belum tentu bisa memfilter segala hal yang diterimanya? Tentu akan merugikan generasi muda kedepannya. “Nggak selamanya yang berbau online itu bermanfaat dan bisa dimanfaatkan. Justru menyebarnya teknologi digital bisa membuat para generasi muda sekarang ini disibukkan oleh dunia barunya, ” imbuh Nissa dalam hati saat kesal melihat teman-temannya sedang asik bersahabat dengan game online dan aplikasi lainnya seperti Whats App, Tiktok, maupun Instagram.

Nissa sendiri lebih memilih melakukan segala sesuatu secara nyata, ia kurang suka dengan kehadiran dunia maya yang menurutnya mengubah tatanan sosial dalam masyarakat. Baginya disrupsi teknologi menyebabkan semua orang melakukan segala sesuatu secara individual.

Sebagai generasi milenial yang cerdas, kita tidak harus menutup diri dari segala perubahan yang ada. Disrupsi teknologi yang kian merajalela memang bisa menjadi bencana bagi siapa yang tidak mampu menghadapinya. Banjirnya informasi serta bertebarnya hoaks maupun media sosial tidak akan bisa ditangkal jika tidak disikapi dengan sebijak apapun. Begitu pun sebaliknya, untuk mereka yang pandai menyikapinya, pasti akan mendapati banyak sekali peluang yang bisa dimanfaatkan kedepannya. Dan bagaimana pun juga, bisa dihadapi atau tidak, disrupsi teknologi ini tidak akan pernah berhenti dan akan terus berlanjut sampai pada waktu yang tidak bisa ditentukan. Tugas kita sebagai penerus bangsa hanyalah menyiapkan diri untuk bersama-sama menciptakan generasi yang unggul, berkualitas, dan memiliki daya saing yang tinggi. (Nadhifah)

Bagikan :

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter
Share on email